Teruntuk siapapun yang merasa sebagai anak kostan.
Dari si Anak Kost yang sedang merenung
Menjadi anak kost ternyata bukan sekadar perkara tinggal jauh dari rumah. Saya baru memahami itu setelah melihat bagaimana banyak orang berubah ketika tidak lagi memiliki ibu yang mengetuk pintu kamar, ayah yang bertanya kapan pulang, atau keluarga yang bisa langsung datang ketika tubuh sedang sakit dan kepala sedang penuh.
Di luar sana kita terlihat bebas. Pulang sesuka hati, makan sesuka hati, memakai uang sendiri, berteman dengan siapa saja, bahkan tidak ada yang benar-benar tahu apa yang kita lakukan ketika pintu kamar sudah ditutup. Tetapi justru di situlah kedewasaan mulai diuji. Sebab kebebasan tanpa kendali hanya akan membuat seseorang tersesat lebih jauh.
Saya bertemu banyak anak rantau yang terlihat baik baik saja. Pagi bekerja, siang sibuk, malam nongkrong atau membuat konten, seolah hidupnya menyenangkan. Padahal setelah kembali ke kamar, sebagian hanya ditemani suara kipas, notifikasi ponsel, dan pikiran yang tidak kunjung diam. Ada yang rindu rumah, ada yang sedang memikirkan uang, ada yang gagal mendapatkan pekerjaan, ada yang sedang patah hati, bahkan ada yang sebenarnya tidak tahu sedang mengejar apa.
Psikologi mengenal bahwa manusia membutuhkan rasa terhubung. Kita membutuhkan seseorang yang membuat kita merasa dilihat, didengar, dan diterima. Karena itu tidak aneh jika seorang anak kost bisa merasa sangat kesepian meskipun setiap hari bertemu puluhan orang. Banyak manusia di sekitar kita, tetapi sedikit yang benar benar menjadi tempat kita meletakkan cerita.
Mungkin itu sebabnya pesan sederhana dari ibu seperti, "Sudah makan?" bisa membuat seseorang yang sedang merantau tiba tiba ingin menangis. Bukan karena pertanyaannya istimewa, tetapi karena di baliknya ada rasa peduli yang tidak bisa digantikan oleh teman sebanyak apa pun.
Kemudian ada perkara uang. Menjadi anak kost membuat saya belajar bahwa uang bukan hanya angka di rekening. Uang adalah berapa kali saya bisa makan, berapa jauh saya bisa pergi, berapa kebutuhan yang harus ditunda, dan berapa banyak keinginan yang harus saya kubur sementara. Ada masa ketika membeli makanan saja harus berpikir dua kali. Ada masa ketika ingin pulang tetapi ongkos belum cukup. Ada masa ketika melihat teman membeli sesuatu yang kita inginkan lalu diam diam bertanya kepada diri sendiri, "Kapan saya bisa seperti itu?"
Di zaman ketika kehidupan orang lain terus muncul di layar ponsel, perbandingan menjadi semakin mudah. Kita melihat orang membeli rumah sebelum kita mampu membayar kost. Melihat orang menikah ketika kita masih sibuk mencari pekerjaan. Melihat orang bepergian ketika uang kita hanya cukup untuk bertahan sampai akhir bulan. Kita kemudian merasa tertinggal, padahal yang kita bandingkan adalah kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang sengaja mereka tampilkan.
Saya pikir inilah salah satu jebakan terbesar anak muda hari ini. Bukan hanya kemiskinan, tetapi perasaan selalu kurang.
Kurang cantik.
Kurang pintar.
Kurang kaya.
Kurang sukses.
Kurang menarik.
Kurang beruntung.
Padahal Allah tidak pernah meminta kita menjadi orang lain. Allah hanya meminta kita menjalani apa yang telah diberikan kepada kita dengan sebaik baiknya.
Menjadi anak kost juga membuat saya belajar tentang tanggung jawab yang mungkin tidak pernah diajarkan secara langsung. Ketika sakit, saya harus mengurus diri sendiri. Ketika uang habis, saya harus belajar mengatur. Ketika gagal, saya tidak bisa terus menyalahkan keadaan. Ketika kesepian, saya harus belajar membedakan antara membutuhkan seseorang dan kehilangan kendali atas diri sendiri. Dan yang paling penting, saya belajar bahwa jauh dari orang tua bukan berarti jauh dari pengawasan Allah.
Justru ketika tidak ada siapa pun yang melihat, di situlah kejujuran diuji. Ketika pintu kamar tertutup dan tidak ada orang yang tahu, Allah tahu. Ketika kita memiliki kesempatan melakukan sesuatu yang salah tanpa diketahui siapa pun, Allah tetap melihat. Ketika kita menangis sendirian dan tidak sanggup menceritakan apa pun kepada manusia, Allah tetap mendengar.
Maka saya tidak ingin memandang masa menjadi anak kost hanya sebagai masa bertahan hidup. Saya ingin melihatnya sebagai salah satu cara Allah mendewasakan manusia. Barangkali kamar sempit itu sedang mengajarkan kita bersyukur. Barangkali uang yang terbatas sedang mengajarkan kita qanaah. Barangkali kesepian sedang mengajarkan kita bahwa manusia tidak akan pernah menjadi tempat bergantung yang sempurna. Barangkali jauhnya rumah sedang mengajarkan kita arti pulang. Dan barangkali semua kesulitan itu sedang membawa kita lebih dekat kepada Allah.
Karena pada akhirnya, kita semua sedang merantau. Ada yang merantau dari kampung ke kota, ada yang merantau dari rumah menuju dunia, dan ada yang tanpa sadar sedang berjalan menuju akhir perjalanan hidupnya.
Jadi kalau hari ini saya masih tinggal di kamar kost yang sederhana, masih menghitung uang sebelum membeli makanan, masih menangis diam diam karena rindu rumah, atau masih bingung dengan arah hidup, saya tidak ingin buru buru menganggap diri saya gagal.
Saya sedang bertumbuh.
Saya sedang belajar.
Saya sedang ditempa.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika semua ini sudah berlalu, saya akan sadar bahwa kamar kecil yang dulu terasa begitu sunyi ternyata pernah menjadi salah satu tempat paling penting dalam hidup saya.
Di sanalah saya belajar hidup tanpa banyak bergantung kepada manusia.
Di sanalah saya belajar mengenal diri sendiri.
Dan di sanalah saya perlahan memahami bahwa sejauh apa pun manusia pergi dari rumah, pada akhirnya ia tetap membutuhkan satu tempat untuk kembali.
Bukan hanya rumah tempat keluarganya tinggal.
Tetapi kepada Tuhan yang sejak awal tidak pernah meninggalkannya. Ingat Allah selalu.
Sekian. Semoga bermanfaat. Assalamu’alaikum.
