Senin, 07 September 2026

Merasa Hidup Orang Lain Lebih Baik? Coba Baca Ini!

 Mengapa Kita Sering Merasa
 Hidup Orang Lain Lebih Baik daripada Hidup Kita?




Pernahkah, kawan, merasa hidup sebenarnya baik-baik saja, tetapi setelah melihat media sosial tiba-tiba muncul perasaan bahwa hidup orang lain jauh lebih bahagia? Kita melihat seseorang berhasil dalam karier, melanjutkan pendidikan, menikah, berlibur, atau memiliki kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa sadar, kita mulai melihat kehidupan sendiri dan bertanya, “Mengapa saya belum sampai di sana?” 

Perasaan seperti itu bukan sekadar kelemahan pribadi. Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia sering menggunakan kehidupan orang lain sebagai standar untuk mengevaluasi dirinya sendiri.


Masalahnya, media sosial membuat perbandingan tersebut menjadi semakin tidak seimbang. Kita melihat bagian terbaik dari kehidupan orang lain, tetapi membandingkannya dengan seluruh kehidupan kita, termasuk masalah, kegagalan, ketakutan, dan hari-hari buruk yang kita alami. Penelitian juga menunjukkan bahwa perbandingan sosial di media sosial dapat berkaitan dengan penurunan penghargaan terhadap diri sendiri (self-esteem), terutama ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang yang dianggap lebih unggul. Pa
dahal, apa yang kita lihat di layar tidak pernah sepenuhnya menggambarkan kehidupan seseorang. Kita mungkin melihat keberhasilannya, tetapi tidak melihat perjuangan yang terjadi sebelum keberhasilan itu.


Menariknya, Al-Qur'an telah memberikan peringatan yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Dalam QS. Taha ayat 131, Allah mengingatkan manusia agar tidak terus-menerus mengarahkan pandangan kepada kenikmatan yang diberikan kepada orang lain. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau belajar dari keberhasilan orang lain. Namun, kita perlu berhati-hati agar kekaguman tidak berubah menjadi rasa iri dan perbandingan tidak berubah menjadi kebencian terhadap kehidupan sendiri. Kadang yang membuat kita merasa kekurangan bukan karena hidup kita benar-benar kosong, tetapi karena perhatian kita terlalu lama tertuju pada apa yang dimiliki orang lain.


Saya percaya setiap manusia memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Ada yang menemukan keberhasilan lebih awal, ada yang membutuhkan perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri. Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?” tetapi, “Apakah saya sudah bertumbuh dibandingkan diri saya yang kemarin?” Kita boleh memiliki mimpi besar tanpa harus merasa kecil di hadapan keberhasilan orang lain. Kita boleh belajar, berusaha, dan terus berkembang sambil tetap bersyukur atas perjalanan yang sedang dijalani. Sebab pada akhirnya, kawan, hidup bukan perlombaan untuk menjadi lebih cepat daripada orang lain, tetapi perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik tanpa kehilangan rasa syukur terhadap kehidupan sendiri.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Sampai berjumpa di tulisanku untuk belajar bersama berikutnya....

Referensi singkat: Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140. Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social Comparison, Social Media, and Self-Esteem. Psychology of Popular Media Culture. Al-Qur'an, QS. Taha: 131.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar