Rabu, 09 September 2026

Makin Dewasa Teman Makin Berkurang, Kenapa Ya?

 Mengapa Semakin Dewasa Kita Semakin Sedikit Memiliki Teman?

Semakin dewasa, saya mulai menyadari bahwa jumlah teman tidak selalu bertambah. Justru bagi banyak orang, lingkaran pertemanan semakin kecil. Dulu rasanya mudah sekali memiliki teman. Di sekolah, kita bertemu setiap hari, belajar bersama, bermain, dan memiliki banyak waktu untuk berbicara. Namun ketika memasuki usia dewasa, kehidupan mulai berubah. Ada yang sibuk bekerja, melanjutkan pendidikan, menikah, pindah kota, atau sedang berjuang dengan masalahnya masing-masing. Akhirnya, bukan selalu karena kita tidak lagi saling menyukai, tetapi karena kehidupan membawa setiap orang ke jalan yang berbeda.

Dalam psikologi sosial, kedekatan dalam hubungan sangat dipengaruhi oleh kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi secara berulang. Ketika frekuensi pertemuan berkurang, hubungan juga membutuhkan usaha yang lebih besar untuk tetap terjaga. Masa dewasa membuat waktu menjadi sumber daya yang semakin terbatas. Karena itu, kita mulai lebih selektif dalam membangun hubungan. Kita tidak lagi hanya mencari banyak orang untuk diajak berbicara, tetapi mulai menghargai orang-orang yang benar-benar hadir, memahami, dan bertahan dalam kehidupan kita.

Namun, memiliki sedikit teman bukan berarti hidup kita menjadi lebih buruk. Kualitas hubungan sering kali lebih penting daripada jumlahnya. Penelitian tentang hubungan sosial menunjukkan bahwa manusia membutuhkan koneksi yang bermakna untuk mendukung kesejahteraan psikologis. Artinya, satu atau dua teman yang benar-benar tulus bisa jauh lebih berharga daripada puluhan hubungan yang hanya terlihat dekat di media sosial. Kedewasaan perlahan mengajarkan kita bahwa tidak semua orang harus tinggal selamanya dalam hidup kita.

Al-Qur'an juga mengingatkan pentingnya memilih lingkungan dan teman yang baik. Dalam QS. At-Taubah ayat 119, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” Ayat ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan, bukan hanya kehadiran teman yang penting, tetapi juga arah yang dibawa oleh pertemanan tersebut. Teman yang baik bukan hanya orang yang menemani kita tertawa, tetapi juga yang membantu kita tetap berada di jalan yang benar.

Jadi, kalau hari ini lingkaran pertemanan kawan semakin kecil, jangan langsung merasa bahwa ada yang salah dengan diri sendiri. Mungkin kehidupan sedang mengajarkan kita tentang arti hubungan yang lebih dewasa. Tidak semua orang yang datang harus tinggal, dan tidak semua yang pergi berarti musuh. Saya percaya, semakin dewasa kita mungkin tidak membutuhkan banyak orang di sekitar kita. Kita hanya membutuhkan beberapa orang yang tulus yang tetap bisa saling mendoakan, saling mengingatkan, dan saling hadir ketika kehidupan tidak sedang baik-baik saja.

Referensi singkat: Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The Need to Belong: Desire for Interpersonal Attachments as a Fundamental Human Motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 497–529. Hall, J. A. (2019). How Many Hours Does It Take to Make a Friend? Journal of Social and Personal Relationships. Al-Qur'an, QS. At-Taubah: 119.

Selasa, 08 September 2026

Sering Merasa Tidak Cukup? Tulisan Ini Untukmu

 Mengapa Kita Sering Merasa Tidak Cukup?


Kawanku... ada sebuah perasaan yang dulu kerap menggangguku dan mungkin juga banyak dialami oleh kawan di luar sana. Perasaan tersebut adalah ketika apa yang diinginkan berhasil dimiliki, tapi tetap saja terasa kurang? Kita sudah mencapai sesuatu yang dulu sangat diinginkan, tetapi setelah mendapatkannya, muncul keinginan baru yang membuat kita kembali merasa belum cukup. Kita ingin pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, kehidupan yang lebih nyaman, atau pencapaian yang lebih tinggi. Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali terbiasa dengan hal-hal baik yang telah diperolehnya. Sesuatu yang awalnya membuat kita sangat bahagia, lama-kelamaan menjadi biasa saja. Karena itu, manusia sering terus mengejar kebahagiaan berikutnya tanpa benar-benar merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki. Setelah mendapatkan konsekuensi entah pujian atau apapun yang menyenangkan hati, manusia cenderung mengulangi. Ini dibahas dalam teori behavioristik. Tapi ketika yang menyenangkan itu kian hari terasa biasa saja, manusia akan mencari pada hal lain yang membawa konsekuensi kesenangan serupa. 

Masalahnya bukan pada keinginan untuk berkembang. Manusia memang membutuhkan tujuan dan harapan dalam hidup. Namun, ketika seluruh kebahagiaan selalu kita letakkan pada sesuatu yang belum dimiliki, kita akan terus hidup dengan perasaan kurang. Kita berkata, “Saya akan bahagia kalau sudah berhasil,” kemudian setelah berhasil kita kembali berkata, “Saya akan bahagia kalau mendapatkan yang lebih besar.” Akhirnya, kebahagiaan selalu berada di masa depan, sementara kita lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani hari ini.

Al-Qur'an mengajarkan manusia tentang pentingnya melihat dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah berfirman bahwa jika manusia bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Syukur bukan berarti berhenti bermimpi atau menyerah pada keadaan. Syukur adalah kemampuan untuk menyadari bahwa di tengah hal-hal yang belum kita miliki, masih ada banyak hal yang sudah Allah berikan. Kita tetap boleh memiliki ambisi, tetapi jangan sampai ambisi membuat kita buta terhadap nikmat yang sudah ada.

Saya semakin memahami bahwa rasa cukup bukan berarti memiliki semuanya. Rasa cukup adalah kemampuan untuk tetap bersyukur sambil terus berusaha. Kita boleh mengejar kehidupan yang lebih baik tanpa membenci kehidupan yang sedang kita jalani. Kita boleh memiliki mimpi besar tanpa menganggap diri gagal hanya karena belum sampai ke sana. Sebab mungkin, kawan, masalah kita bukan karena hidup terlalu sedikit memberi, tetapi karena kita terlalu sering menghitung apa yang belum dimiliki dan lupa menghargai apa yang sudah ada. Jadi, sebelum kembali mengejar sesuatu yang jauh di depan, mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: "berapa banyak hal yang dulu saya inginkan, tetapi sekarang sudah saya miliki?"

Referensi singkat: Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic Relativism and Planning the Good Society. Dalam M. H. Appley (Ed.), Adaptation-Level Theory. Academic Press. Lyubomirsky, S. (2011). The How of Happiness. Penguin Press. Al-Qur'an, QS. Ibrahim: 7.