Rabu, 09 September 2026

Makin Dewasa Teman Makin Berkurang, Kenapa Ya?

 Mengapa Semakin Dewasa Kita Semakin Sedikit Memiliki Teman?

Semakin dewasa, saya mulai menyadari bahwa jumlah teman tidak selalu bertambah. Justru bagi banyak orang, lingkaran pertemanan semakin kecil. Dulu rasanya mudah sekali memiliki teman. Di sekolah, kita bertemu setiap hari, belajar bersama, bermain, dan memiliki banyak waktu untuk berbicara. Namun ketika memasuki usia dewasa, kehidupan mulai berubah. Ada yang sibuk bekerja, melanjutkan pendidikan, menikah, pindah kota, atau sedang berjuang dengan masalahnya masing-masing. Akhirnya, bukan selalu karena kita tidak lagi saling menyukai, tetapi karena kehidupan membawa setiap orang ke jalan yang berbeda.

Dalam psikologi sosial, kedekatan dalam hubungan sangat dipengaruhi oleh kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi secara berulang. Ketika frekuensi pertemuan berkurang, hubungan juga membutuhkan usaha yang lebih besar untuk tetap terjaga. Masa dewasa membuat waktu menjadi sumber daya yang semakin terbatas. Karena itu, kita mulai lebih selektif dalam membangun hubungan. Kita tidak lagi hanya mencari banyak orang untuk diajak berbicara, tetapi mulai menghargai orang-orang yang benar-benar hadir, memahami, dan bertahan dalam kehidupan kita.

Namun, memiliki sedikit teman bukan berarti hidup kita menjadi lebih buruk. Kualitas hubungan sering kali lebih penting daripada jumlahnya. Penelitian tentang hubungan sosial menunjukkan bahwa manusia membutuhkan koneksi yang bermakna untuk mendukung kesejahteraan psikologis. Artinya, satu atau dua teman yang benar-benar tulus bisa jauh lebih berharga daripada puluhan hubungan yang hanya terlihat dekat di media sosial. Kedewasaan perlahan mengajarkan kita bahwa tidak semua orang harus tinggal selamanya dalam hidup kita.

Al-Qur'an juga mengingatkan pentingnya memilih lingkungan dan teman yang baik. Dalam QS. At-Taubah ayat 119, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” Ayat ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan, bukan hanya kehadiran teman yang penting, tetapi juga arah yang dibawa oleh pertemanan tersebut. Teman yang baik bukan hanya orang yang menemani kita tertawa, tetapi juga yang membantu kita tetap berada di jalan yang benar.

Jadi, kalau hari ini lingkaran pertemanan kawan semakin kecil, jangan langsung merasa bahwa ada yang salah dengan diri sendiri. Mungkin kehidupan sedang mengajarkan kita tentang arti hubungan yang lebih dewasa. Tidak semua orang yang datang harus tinggal, dan tidak semua yang pergi berarti musuh. Saya percaya, semakin dewasa kita mungkin tidak membutuhkan banyak orang di sekitar kita. Kita hanya membutuhkan beberapa orang yang tulus yang tetap bisa saling mendoakan, saling mengingatkan, dan saling hadir ketika kehidupan tidak sedang baik-baik saja.

Referensi singkat: Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The Need to Belong: Desire for Interpersonal Attachments as a Fundamental Human Motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 497–529. Hall, J. A. (2019). How Many Hours Does It Take to Make a Friend? Journal of Social and Personal Relationships. Al-Qur'an, QS. At-Taubah: 119.

Selasa, 08 September 2026

Sering Merasa Tidak Cukup? Tulisan Ini Untukmu

 Mengapa Kita Sering Merasa Tidak Cukup?


Kawanku... ada sebuah perasaan yang dulu kerap menggangguku dan mungkin juga banyak dialami oleh kawan di luar sana. Perasaan tersebut adalah ketika apa yang diinginkan berhasil dimiliki, tapi tetap saja terasa kurang? Kita sudah mencapai sesuatu yang dulu sangat diinginkan, tetapi setelah mendapatkannya, muncul keinginan baru yang membuat kita kembali merasa belum cukup. Kita ingin pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, kehidupan yang lebih nyaman, atau pencapaian yang lebih tinggi. Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali terbiasa dengan hal-hal baik yang telah diperolehnya. Sesuatu yang awalnya membuat kita sangat bahagia, lama-kelamaan menjadi biasa saja. Karena itu, manusia sering terus mengejar kebahagiaan berikutnya tanpa benar-benar merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki. Setelah mendapatkan konsekuensi entah pujian atau apapun yang menyenangkan hati, manusia cenderung mengulangi. Ini dibahas dalam teori behavioristik. Tapi ketika yang menyenangkan itu kian hari terasa biasa saja, manusia akan mencari pada hal lain yang membawa konsekuensi kesenangan serupa. 

Masalahnya bukan pada keinginan untuk berkembang. Manusia memang membutuhkan tujuan dan harapan dalam hidup. Namun, ketika seluruh kebahagiaan selalu kita letakkan pada sesuatu yang belum dimiliki, kita akan terus hidup dengan perasaan kurang. Kita berkata, “Saya akan bahagia kalau sudah berhasil,” kemudian setelah berhasil kita kembali berkata, “Saya akan bahagia kalau mendapatkan yang lebih besar.” Akhirnya, kebahagiaan selalu berada di masa depan, sementara kita lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani hari ini.

Al-Qur'an mengajarkan manusia tentang pentingnya melihat dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah berfirman bahwa jika manusia bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Syukur bukan berarti berhenti bermimpi atau menyerah pada keadaan. Syukur adalah kemampuan untuk menyadari bahwa di tengah hal-hal yang belum kita miliki, masih ada banyak hal yang sudah Allah berikan. Kita tetap boleh memiliki ambisi, tetapi jangan sampai ambisi membuat kita buta terhadap nikmat yang sudah ada.

Saya semakin memahami bahwa rasa cukup bukan berarti memiliki semuanya. Rasa cukup adalah kemampuan untuk tetap bersyukur sambil terus berusaha. Kita boleh mengejar kehidupan yang lebih baik tanpa membenci kehidupan yang sedang kita jalani. Kita boleh memiliki mimpi besar tanpa menganggap diri gagal hanya karena belum sampai ke sana. Sebab mungkin, kawan, masalah kita bukan karena hidup terlalu sedikit memberi, tetapi karena kita terlalu sering menghitung apa yang belum dimiliki dan lupa menghargai apa yang sudah ada. Jadi, sebelum kembali mengejar sesuatu yang jauh di depan, mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: "berapa banyak hal yang dulu saya inginkan, tetapi sekarang sudah saya miliki?"

Referensi singkat: Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic Relativism and Planning the Good Society. Dalam M. H. Appley (Ed.), Adaptation-Level Theory. Academic Press. Lyubomirsky, S. (2011). The How of Happiness. Penguin Press. Al-Qur'an, QS. Ibrahim: 7.

Minggu, 09 Agustus 2026

PERIHAL ANAK KOST

Teruntuk siapapun yang merasa sebagai anak kostan. 

Dari si Anak Kost yang sedang merenung  

Menjadi anak kost ternyata bukan sekadar perkara tinggal jauh dari rumah. Saya baru memahami itu setelah melihat bagaimana banyak orang berubah ketika tidak lagi memiliki ibu yang mengetuk pintu kamar, ayah yang bertanya kapan pulang, atau keluarga yang bisa langsung datang ketika tubuh sedang sakit dan kepala sedang penuh.

Di luar sana kita terlihat bebas. Pulang sesuka hati, makan sesuka hati, memakai uang sendiri, berteman dengan siapa saja, bahkan tidak ada yang benar-benar tahu apa yang kita lakukan ketika pintu kamar sudah ditutup. Tetapi justru di situlah kedewasaan mulai diuji. Sebab kebebasan tanpa kendali hanya akan membuat seseorang tersesat lebih jauh.

Saya bertemu banyak anak rantau yang terlihat baik baik saja. Pagi bekerja, siang sibuk, malam nongkrong atau membuat konten, seolah hidupnya menyenangkan. Padahal setelah kembali ke kamar, sebagian hanya ditemani suara kipas, notifikasi ponsel, dan pikiran yang tidak kunjung diam. Ada yang rindu rumah, ada yang sedang memikirkan uang, ada yang gagal mendapatkan pekerjaan, ada yang sedang patah hati, bahkan ada yang sebenarnya tidak tahu sedang mengejar apa.

Psikologi mengenal bahwa manusia membutuhkan rasa terhubung. Kita membutuhkan seseorang yang membuat kita merasa dilihat, didengar, dan diterima. Karena itu tidak aneh jika seorang anak kost bisa merasa sangat kesepian meskipun setiap hari bertemu puluhan orang. Banyak manusia di sekitar kita, tetapi sedikit yang benar benar menjadi tempat kita meletakkan cerita.

Mungkin itu sebabnya pesan sederhana dari ibu seperti, "Sudah makan?" bisa membuat seseorang yang sedang merantau tiba tiba ingin menangis. Bukan karena pertanyaannya istimewa, tetapi karena di baliknya ada rasa peduli yang tidak bisa digantikan oleh teman sebanyak apa pun.

Kemudian ada perkara uang. Menjadi anak kost membuat saya belajar bahwa uang bukan hanya angka di rekening. Uang adalah berapa kali saya bisa makan, berapa jauh saya bisa pergi, berapa kebutuhan yang harus ditunda, dan berapa banyak keinginan yang harus saya kubur sementara. Ada masa ketika membeli makanan saja harus berpikir dua kali. Ada masa ketika ingin pulang tetapi ongkos belum cukup. Ada masa ketika melihat teman membeli sesuatu yang kita inginkan lalu diam diam bertanya kepada diri sendiri, "Kapan saya bisa seperti itu?"

Di zaman ketika kehidupan orang lain terus muncul di layar ponsel, perbandingan menjadi semakin mudah. Kita melihat orang membeli rumah sebelum kita mampu membayar kost. Melihat orang menikah ketika kita masih sibuk mencari pekerjaan. Melihat orang bepergian ketika uang kita hanya cukup untuk bertahan sampai akhir bulan. Kita kemudian merasa tertinggal, padahal yang kita bandingkan adalah kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang sengaja mereka tampilkan.

Saya pikir inilah salah satu jebakan terbesar anak muda hari ini. Bukan hanya kemiskinan, tetapi perasaan selalu kurang.

Kurang cantik.

Kurang pintar.

Kurang kaya.

Kurang sukses.

Kurang menarik.

Kurang beruntung.

Padahal Allah tidak pernah meminta kita menjadi orang lain. Allah hanya meminta kita menjalani apa yang telah diberikan kepada kita dengan sebaik baiknya.

Menjadi anak kost juga membuat saya belajar tentang tanggung jawab yang mungkin tidak pernah diajarkan secara langsung. Ketika sakit, saya harus mengurus diri sendiri. Ketika uang habis, saya harus belajar mengatur. Ketika gagal, saya tidak bisa terus menyalahkan keadaan. Ketika kesepian, saya harus belajar membedakan antara membutuhkan seseorang dan kehilangan kendali atas diri sendiri. Dan yang paling penting, saya belajar bahwa jauh dari orang tua bukan berarti jauh dari pengawasan Allah.

Justru ketika tidak ada siapa pun yang melihat, di situlah kejujuran diuji. Ketika pintu kamar tertutup dan tidak ada orang yang tahu, Allah tahu. Ketika kita memiliki kesempatan melakukan sesuatu yang salah tanpa diketahui siapa pun, Allah tetap melihat. Ketika kita menangis sendirian dan tidak sanggup menceritakan apa pun kepada manusia, Allah tetap mendengar.

Maka saya tidak ingin memandang masa menjadi anak kost hanya sebagai masa bertahan hidup. Saya ingin melihatnya sebagai salah satu cara Allah mendewasakan manusia. Barangkali kamar sempit itu sedang mengajarkan kita bersyukur. Barangkali uang yang terbatas sedang mengajarkan kita qanaah. Barangkali kesepian sedang mengajarkan kita bahwa manusia tidak akan pernah menjadi tempat bergantung yang sempurna. Barangkali jauhnya rumah sedang mengajarkan kita arti pulang. Dan barangkali semua kesulitan itu sedang membawa kita lebih dekat kepada Allah. 

Karena pada akhirnya, kita semua sedang merantau. Ada yang merantau dari kampung ke kota, ada yang merantau dari rumah menuju dunia, dan ada yang tanpa sadar sedang berjalan menuju akhir perjalanan hidupnya.

Jadi kalau hari ini saya masih tinggal di kamar kost yang sederhana, masih menghitung uang sebelum membeli makanan, masih menangis diam diam karena rindu rumah, atau masih bingung dengan arah hidup, saya tidak ingin buru buru menganggap diri saya gagal.

Saya sedang bertumbuh.

Saya sedang belajar.

Saya sedang ditempa.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika semua ini sudah berlalu, saya akan sadar bahwa kamar kecil yang dulu terasa begitu sunyi ternyata pernah menjadi salah satu tempat paling penting dalam hidup saya.

Di sanalah saya belajar hidup tanpa banyak bergantung kepada manusia.

Di sanalah saya belajar mengenal diri sendiri.

Dan di sanalah saya perlahan memahami bahwa sejauh apa pun manusia pergi dari rumah, pada akhirnya ia tetap membutuhkan satu tempat untuk kembali.

Bukan hanya rumah tempat keluarganya tinggal.

Tetapi kepada Tuhan yang sejak awal tidak pernah meninggalkannya. Ingat Allah selalu.

          Sekian. Semoga bermanfaat. Assalamu’alaikum. 

 

 

Senin, 20 Juli 2026

​IDOLA, SEPENTING INI LHO!

 TEMUKAN IDOLAMU

​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Sadar atau tidak, hampir setiap hal yang kita impikan, setinggi apa pun itu, bisa saja menjadi kenyataan. Begitu pula dengan sosok yang kita jadikan rujukan atau idola dalam menggapai mimpi tersebut. Suka atau tidak, sosok yang kita kagumi membawa pengaruh yang sangat besar dalam cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.

​Mengapa bisa demikian? Sebab kekaguman yang kita miliki akan mengarahkan prinsip hidup kita. Jika kita mengagumi seseorang karena kerja kerasnya, kita cenderung terdorong untuk bertindak serupa. Namun, jika kita keliru memilih sosok yang dijadikan teladan, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan arah dan pijakan nilai yang sebenarnya. Maka sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita merenungkan kembali kepada siapa kita menempatkan rasa kagum tersebut.

​Saat ini kita sering kali terinspirasi oleh perjalanan hidup seseorang, baik itu dari kalangan pebisnis, figur publik, maupun profesional yang sukses dari nol. Cerita tentang perjuangan mereka meraih popularitas dan keberhasilan materi memang sangat memikat. Kita melihat bagaimana mereka bekerja keras, lalu timbul keinginan dalam diri kita untuk berjuang sebaik mereka. Hal itu tentu positif jika kita mengambil sisi baik dari semangat dan kegigihannya.

​Namun, ada hal penting yang kerap terlupakan saat kita mengidolakan seseorang hanya dari pencapaian dunianya saja. Kita sering kali hanya terpesona oleh hasil akhir berupa popularitas, kekayaan, dan pengakuan publik, tanpa mempertimbangkan bagaimana dimensi etika, karakter, serta nilai spiritual sosok tersebut.

​Pencapaian karir dan popularitas yang tinggi idealnya selaras dengan kualitas diri yang makin baik. Jika impian kita mengejar kesuksesan justru membuat kita mengabaikan etika, melupakan integritas, atau menjauhkan diri dari nilai-nilai kebaikan, maka ada yang perlu dievaluasi dari tolok ukur sukses yang kita pakai.

​Pilihlah figur teladan yang tidak hanya menginspirasi kita untuk mengejar sukses secara profesional, tetapi juga membimbing kita menjadi manusia yang lebih bijaksana, memiliki rasa empati, serta menjaga prinsip hidup yang benar. Sosok yang kita kagumi secara tidak langsung akan membentuk cara kita memandang dunia.

​Bagi seorang muslim, teladan tertinggi yang paling sempurna dalam segala aspek kehidupan tentu adalah Rasulullah SAW. Perjalanan hidup beliau mengajarkan kita kepemimpinan, keteguhan karakter, kejujuran, hingga kerendahan hati di tengah keberhasilan. Membaca dan mempelajari perjalanan hidup beliau akan memberikan sudut pandang yang jernih agar kita tidak salah dalam menaruh rasa kagum.

​Mumpung kesempatan hidup masih ada, mari kita lebih bijak memilih sosok yang kita ikuti. Pilihlah jalan hidup dan teladan yang akan membuat kita bersyukur pada masa depan, bukan hanya atas apa yang berhasil kita dapatkan di dunia, melainkan juga atas kebaikan karakter yang berhasil kita jaga sampai akhir perjalanan nanti.

​Aisyah Humaira H. Said

Terima kasih sudah mampir.


Minggu, 24 Mei 2026

SAATNYA ANTI GABUT

langsung saja, SELAMAT membaca. SEMOGA anda bahagia.


RUANG, JUANG DAN MENANG








​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Ketika kita mendengar kata ruang, juang, dan kemenangan, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Apakah tentang cita-cita, perjuangan hidup di tanah perantauan, atau proses mendewasakan diri? Semua jawaban itu tidak salah, sebab ketiganya saling berkaitan erat dengan kehidupan yang sedang kita jalani.

​Ruang adalah tempat kita berproses dan bertumbuh. Juang adalah konsekuensi nyata yang harus diambil agar setiap langkah, waktu, dan biaya yang dikorbankan di tanah rantau tidak berakhir sia-sia. Sementara kemenangan adalah muara atau tujuan yang diimpikan oleh setiap orang yang berani mengambil keputusan untuk berjuang. Semua dinamika tersebut berada dalam satu wadah nikmat yang sangat berharga, yaitu waktu.

​Bagi seorang perantau, waktu sering kali terasa berjalan sangat dinamis. Ada kalanya hari-hari diisi oleh jadwal yang begitu padat, namun ada saatnya kita berada dalam situasi yang serba lengang atau memiliki banyak waktu luang. Di kalangan anak muda, momentum waktu luang ini tidak jarang direspons dengan istilah gabut alias bersantai tanpa arah dan tujuan yang jelas.

​Memanfaatkan waktu untuk beristirahat tentu merupakan hal yang wajar dan sangat manusiawi. Namun, masalah timbul ketika masa rehat tersebut berubah menjadi kebiasaan bermalas-malasan yang mengikis produktivitas diri. Tanpa disadari, kebiasaan menunda-nunda dan membiarkan hari berlalu tanpa aktivitas yang bermakna bisa mengalihkan kita dari fokus utama alasan kita merantau dan menuntut ilmu sejak awal.

​Mengapa fenomena ini sering melanda para anak muda di perantauan? Salah satu penyebab utamanya adalah ketiadaan perencanaan atau prioritas harian yang jelas. Ketika kita tidak memiliki jadwal dan tujuan yang spesifik, kita cenderung bingung harus melakukan apa, hingga akhirnya memilih untuk terus menghabiskan waktu secara pasif.

​Padahal, sebagai pribadi yang sedang berjuang membangun masa depan, setiap detik waktu yang kita miliki sangat berharga. Menjaga produktivitas tidak selalu berarti harus terus bekerja atau belajar tanpa henti, melainkan kemampuan untuk mengelola waktu secara bijak. Jika tubuh dan pikiran merasa lelah, gunakanlah waktu untuk beristirahat secara berkualitas. Namun, jika fisik dalam kondisi segar, manfaatkanlah waktu luang tersebut untuk hal-hal yang meningkatkan kapasitas diri, seperti membaca buku, mengasah keterampilan baru, menghadiri majelis ilmu, atau melakukan kebaikan bagi sesama.

​Seseorang yang memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas di tanah perantauan tidak akan mudah terjebak dalam rasa jenuh yang berkepanjangan. Mereka sadar bahwa berada jauh dari keluarga membawa amanah dan tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada orang tua maupun kepada Sang Maha Pencipta.

​Dunia perantauan memang menawarkan banyak pilihan dan distraksi yang bisa melalaikan. Oleh karena itu, membangun diri yang disiplin, mencari lingkungan pertemanan yang positif dan saling mendukung, serta memegang teguh nilai-nilai etika dan ajaran agama adalah fondasi penting agar kita tidak kehilangan arah.

​Mari kita manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Ingatlah bahwa perjuangan hari ini di tanah rantau adalah investasi untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Lelah yang dirasakan saat ini akan terasa sangat manis ketika kelak kita berhasil mencapai tujuan dan memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai.

​Semoga cerita dan refleksi singkat ini bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, dan silakan bagikan pandangan atau pengalaman sahabat semua di kolom komentar agar kita bisa saling menguatkan.

Perantau no gabut. 

​Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Aisyah Humaira H. Said

Terima kasih sudah mampir.

Jumat, 27 Juni 2025

YAKIN KAMU SEHAT?

​Refleksi Makna Sehat: Ketika Jiwa Terabaikan di Tengah Riuh Modernitas

Kata sehat sering kali memiliki definisi yang beragam di kepala setiap orang. Bagi sebagian besar masyarakat, sehat kerap ditafsirkan secara fisik dan teknis semata, yaitu selama raga masih dapat bergerak, bekerja, dan bebas dari diagnosis penyakit medis. Namun, definisi ini kerap menyisakan pertanyaan mendasar tentang apakah kecukupan fisik saja sudah cukup untuk menggambarkan hakikat kesehatan yang sejati?. Jika kita bersedia mengamati kondisi sekitar dengan lebih jernih, ada sebuah realitas yang meresahkan ketika banyak individu yang secara fisik tampak bugar, namun secara batiniah sedang mengalami keletihan yang luar biasa. Maraknya kasus gangguan kesehatan mental hingga isolasi sosial di tengah masyarakat modern menjadi alarm keras bahwa ada dimensi jiwa yang kerap terabaikan.

​Sakit yang sesungguhnya bukan hanya soal disfungsi raga akibat penyakit medis, melainkan ketika jiwa kehilangan arah dan terjebak dalam krisis moral. Saat ini kita sedang menyaksikan sebuah paradoks peradaban, di mana perkembangan teknologi dan pengetahuan melompat sangat jauh, tetapi di saat yang sama krisis etika justru merajalela. Maraknya tindak korupsi, kekerasan, hingga judi di berbagai tingkatan masyarakat acap kali melibatkan individu-individu berpendidikan tinggi dan bernasib baik secara ekonomi. Fenomena ini membuktikan bahwa pencapaian materi dan kecerdasan intelektual tidak otomatis menjamin kebaikan mental maupun kesadaran etis seseorang jika jiwanya sedang tidak baik-baik saja.

​Ketika cara pandang hidup manusia hanya berpusat pada materi dan pencapaian instan, masyarakat rentan mengalami disorientasi nilai. Nilai-nilai spiritualitas dan etika acap kali hanya dijadikan formalitas temporer yang dipraktikkan di tempat ibadah atau momentum tertentu saja, namun dikesampingkan dalam aktivitas harian, ekonomi, maupun interaksi sosial. Kesadaran moral yang kuat idealnya lahir dari proses pemikiran yang mendalam dan kesadaran utuh, bukan sekadar tradisi tanpa perenungan atau sekadar ikut-ikutan. Penerapan nilai-nilai etika dan ajaran agama secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari sejatinya bukan untuk membatasi ruang gerak, melainkan untuk memberikan fondasi jiwa yang kokoh.

​Tanpa fondasi etika dan nilai spiritual yang dihayati secara utuh, berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, industri, hingga tata kelola publik rentan tergelincir pada pragmatisme yang hanya mengejar keuntungan materi dan kekuasaan semata. Keadaan ini pada akhirnya kerap mengorbankan empati dan keadilan sosial, sehingga memicu berbagai bentuk kerusakan moral dan ketimpangan di masyarakat. Oleh karena itu, memaknai kembali arti sehat berarti berani jujur melihat kondisi diri dan lingkungan dengan mengintegrasikan keseimbangan antara kesehatan fisik, kematangan emosional, dan kedalaman nilai spiritual demi mewujudkan kehidupan yang harmonis dan bermakna.

​Aisyah Humaira H. Said
Salam ukhuwah

Selasa, 04 Juni 2024

SALAM DARI 2024

 REFLEKSI UNTUK AISYAH DARI 2024 


​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
​Melalui catatan kali ini, saya berharap kita bisa saling mengenali, menginspirasi, dan berbagi motivasi. Selamat membaca, semoga waktu yang Anda luangkan di sini membawa kebaikan.

​Aisyah Humaira H. Said adalah nama lengkap saya. Namun, orang-orang di sekitar kerap menyapa saya dengan panggilan Aisyah, Ndondong, Ai, atau Ais. Dari sekian banyak sapan tersebut, saya pribadi lebih nyaman jika dipanggil Aisyah atau Ai karena terasa lebih pas dan enak didengar. Meski begitu, panggilan Ndondong yang merupakan sapaan akrab dari saudara-saudara saya tetap memiliki tempat tersendiri di hati setelah saya memahami makna hangat di balik panggilan itu. Bagi saya, apa pun panggilannya, sosok yang berada di balik cerita ini tetaplah sama, yaitu diri saya sendiri.
​Terlahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, terpikir di benak saya sebuah harapan besar untuk bisa memberikan pencapaian terbaik dalam hidup. Saya ingin menjadi muara yang manis bagi rangkaian perjuangan panjang dua insan hebat pilihan Allah, yaitu ayah dan ibu. Episode perjuangan serta curahan keringat mereka demi memberikan kehidupan terbaik bagi anak-anaknya tidak pernah benar-benar terputus. Dari ketulusan merekalah, perjalanan kisah hidup saya bermula.


​Saya lahir di Kampung Konggang, Desa Nuca Molas, pada 02 Januari 2003. Tempat ini mungkin lebih familier jika disebut Pulau Mules, sebuah pulau kecil yang terletak di Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Sebuah kecukupan yang terasa lengkap karena ayah dan ibu selalu menanamkan rasa syukur dalam kondisi apa pun.
​Pendidikan dasar saya dimulai di SDN Pulau Mules, satu-satunya sekolah dasar di kampung kami, ketika usia saya baru menginjak lima tahun. Sebagai anak pesisir, masa kecil saya dipenuhi kenangan bermain di tepi pantai, mengejar ombak, memainkan permainan khas makakaeng, serta permainan tradisional desa lainnya. Namun di samping bermain, saya juga tumbuh menjadi anak yang gemar membaca buku cerita. Meski sarana belajar saat itu sangat terbatas, saya selalu berusaha memaksimalkan apa yang ada. Ayah adalah guru pertama yang selalu setia mengajari saya di rumah. Atas izin Allah, saya selalu dipercaya meraih peringkat pertama sepanjang sekolah dasar.
​Tahun 2014, setelah lulus SD, sempat terbersit keinginan untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di luar daerah, tepatnya di Kecamatan Reok. Sebagai remaja desa, tentu ada rasa antusias untuk mendapatkan pengalaman dan lingkungan baru. Namun, rasa rindu dan kasih sayang ibu yang berat melepas anak bungsunya merantau mengalahkan niat tersebut. Saya pun mengikhlaskan harapan itu demi menenangkan hati ibu.

​Sekilas tentang dua malaikat tak bersayap dalam hidup saya. Ibu adalah sosok perempuan yang luar biasa tangguh. Sebagai seorang pedagang ikan kering, beliau bekerja tanpa kenal lelah, berpindah dari satu pasar ke pasar lain setiap pekannya. Sejak saya kelas satu SD, saya sering kali merajuk ingin ikut berdagang, walau keberadaan saya yang masih kecil tentu cukup merepotkan. Namun, ibu dengan penuh kasih melarang saya ikut bukan karena enggan, melainkan agar saya bisa fokus belajar dan tidak perlu melihatnya kelelahan. Beliau menekuni usaha ini sejak kakak sulung saya masih kelas 3 SD hingga kini usianya menginjak 43 tahun. Ibu menikmatinya dengan tulus. Sementara Ayah adalah sosok yang tegas dan tegar. Beliau adalah nakhoda terbaik yang lihai mengemudikan bahtera keluarga kami mengarungi samudera kehidupan, bahkan di saat paling sulit sekalipun. Walau hanya lulusan SMK dan lahir dari keluarga sederhana, berbekal ketekunan, ilmu, dan doa, Allah memberkahi beberapa usaha bisnis yang ia rintis hingga berhasil. Bagi saya, mereka berdua adalah kombinasi yang sempurna.
​Keputusan untuk tetap berada di kampung membuat saya melanjutkan pendidikan di SMPN Nuca Molas pada pertengahan 2014. Masa SMP ini menjadi momen penting karena di sinilah saya mulai jatuh cinta pada dunia menulis. Saya sering menghabiskan waktu membuat draf cerita pendek di rumah, lalu menempelkan karya terbaik di mading sekolah. Dari segi akademik, walau fasilitas sekolah masih terbatas dan saya sempat mengalami keterbatasan akses teknologi, saya berhasil melewati masa tiga tahun itu dengan sangat baik. Peringkat terbaik senantiasa bertahan, walau pernah sekali turun juara ke rangking 2. Hadiah sederhana berupa empat buah buku tulis dan pulpen saat apresiasi tetap saya syukuri, sebab saya belajar untuk menyerap ilmu kehidupan, bukan sekadar memburu angka di atas kertas.

​Tahun 2017, di usia 14 tahun, saya resmi lulus SMP. Langkah perjuangan berlanjut ke jenjang SMA. Saya dan orang tua memiliki harapan yang sama, yaitu melanjutkan sekolah di MAN Langke Rembong yang kini dikenal sebagai MAN 2 Manggarai di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Bersama sepupu sekaligus sahabat terdekat saya, Munira yang akrab saya panggil Lalang, kami diantar oleh keluarga menuju kota untuk mulai menimba ilmu di tanah perantauan. Kami memilih tinggal di sebuah indekos milik Kepala Madrasah. Hari-hari di SMA diisi dengan adaptasi yang luar biasa. Masuk di program studi MIPA, saya merasakan persaingan belajar yang jauh lebih ketat dibandingkan saat di kampung. Pada awal semester, saya berada di peringkat empat kelas. Kecewa tentu ada, bukan karena hasilnya, melainkan karena khawatir membuat orang tua berkecil hati. Namun, tanggapan ayah dan ibu justru sangat menenangkan. Mereka meminta saya untuk tetap bersyukur dan fokus pada proses. Sejak saat itu saya meyakini bahwa hasil hanyalah dampak, tetapi kejujuran dan ketekunan dalam proses belajarlah yang akan dibalas Allah dengan kebaikan.

​Perlahan namun pasti, proses itu membuahkan hasil hingga prestasi saya meningkat ke peringkat tiga umum di sekolah. Meski demikian, ada satu penyesalan yang menjadi pelajaran berharga. Saya merasa belum maksimal memanfaatkan peluang kompetisi seperti KSM, OSN, maupun O2SN yang pernah diikuti. Pengalaman itu menempa saya untuk berjanji pada diri sendiri agar tidak lagi menyia-nyiakan setiap kesempatan baik yang hadir di masa depan. Masuk pertengahan masa SMA, fokus kami mulai terbagi dengan persiapan menuju perguruan tinggi negeri. Saya memperketat ritme belajar demi mengamankan grafik nilai rapor. Alhamdulillah, perkembangan nilai saya terus menunjukkan tren positif sejak awal kelas 11. Ketika proses pemeringkatan sekolah untuk jalur undangan SNMPTN dimulai di awal semester dua kelas 12, rasa cemas kerap menghampiri. Berbagai isu seputar syarat kelulusan sempat membuat saya ragu, namun doa dari ayah dan ibu menjadi penguat utama.

​Alhamdulillah, nama saya bersama beberapa rekan lainnya resmi dinyatakan lolos pemeringkatan sekolah dan berhak melangkah ke tahap pendaftaran SNMPTN. Kabar bahagia itu langsung saya sampaikan kepada ayah dan ibu, dan senyum bangga yang terukir di wajah mereka menjadi bahan bakar utama saya untuk terus melangkah di babak berikutnya. Tahapan pendaftaran meminta kami memasukkan data administrasi berkas hingga pilihan jurusan sesuai aturan yang berlaku. Pilihan jurusan dibatasi maksimal dua. Setelah melalui diskusi mendalam bersama orang tua, guru, dan teman, pilihan pertama saya tetapkan pada Jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Nusa Cendana, sedangkan pilihan kedua adalah Jurusan Matematika di Universitas Hasanuddin. Ada cerita menarik di balik keputusan tersebut. Sejak SD hingga awal kelas 11, menjadi dokter adalah cita-cita utama saya. Namun impian itu perlahan bergeser ketika saya mulai jatuh cinta pada dunia pendidikan dan tergerak untuk menjadi seorang pendidik. Mengenai pilihan Matematika, jujur saya tidak merasa hebat dalam ilmu ini, tetapi saya sangat suka mempelajarinya. Bermodalkan rasa suka, tekun belajar, dan fokus pada proses, nilai matematika saya merangkak naik hingga menjadi salah satu yang terbaik di kelas. Dari sini saya paham bahwa kunci keberhasilan bukanlah seberapa jenius kita, melainkan seberapa konsisten kita mau belajar.

​Mengenai kampus tujuan, Universitas Nusa Cendana sebagai pilihan pertama merupakan kampus kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang juga disarankan oleh guru operator sekolah. Alasan paling mendasar di atas segalanya adalah karena orang tua merestui pilihan tersebut, sebab ridho orang tua adalah bentuk ridho Allah. Sementara Universitas Hasanuddin menjadi pilihan kedua karena reputasinya yang luar biasa di Makassar, yaitu kota tempat ketiga kakak saya pernah menimba ilmu kuliah, sekaligus adanya keinginan saya untuk mencoba pengalaman baru menuntut ilmu di luar daerah. ​Setelah seluruh administrasi pendaftaran selesai, fokus kami beralih pada Ujian Madrasah, Ujian Akhir Madrasah, dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. Saat itu Ujian Nasional resmi ditiadakan oleh pemerintah. Alhamdulillah, saya mampu menyelesaikan seluruh ujian dengan baik. Sambil menanti pengumuman, sebagai seorang introvert yang tidak begitu menyukai keramaian, saya memilih bertahan di kos untuk fokus belajar persiapan ujian masuk perguruan tinggi jalur tertulis.

​Beberapa minggu kemudian saya pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Pada tanggal 04 Mei 2020, pengumuman sekolah menyatakan seluruh siswa lulus seratus persen. Penantian berikutnya tertuju pada pengumuman SNMPTN pada tanggal 08 April 2020 pukul 13.00 WITA. Rasa tegang menyelimuti kami saat portal pengumuman dibuka di tengah koneksi internet yang lambat. Rasa haru dan syukur luar biasa buncah saat layar menampilkan warna hijau dengan tulisan selamat diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Nusa Cendana. Senyum bangga di wajah ayah dan ibu menjadi hadiah terindah dari perjuangan tersebut. Walau di hari yang sama saya tidak lolos pada jalur SPAN-PTKIN, saya tetap bersyukur karena meyakini bahwa rezeki yang ditetapkan Allah tidak akan pernah melekat pada orang yang salah. Setelah menyelesaikan seluruh proses ulang administrasi, saya resmi menjadi mahasiswa Universitas Nusa Cendana. Perjuangan berlanjut hingga kini di semester akhir bangku kuliah. Selain menyelesaikan tanggung jawab akademik untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan, saya menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah di komunitas islami, membuat konten edukatif di media sosial, serta menulis di blog pribadi untuk membagikan kebaikan.

​Teruntuk Ayah dan Ibu, usaplah keringatmu dan beristirahatlah dari lelah yang panjang. Biarkan doa-doamu yang terus mengalir membantu melangkahkannya, dan biarkan anakmu ini yang berjuang untuk mengukir senyum di wajahmu. Semoga Allah meredai setiap langkah kita.

​Semoga catatan kecil ini bisa mengobati rindu sahabat semua akan tulisan-tulisan saya. Saya sangat terbuka menerima masukan dan saran di kolom komentar untuk perbaikan karya-karya berikutnya. Sampai jumpa di catatan selanjutnya.
Kepada diriku, terima kasih sudah bertahan dan berjuang sejauh ini.
Wassalam.

​Terima kasih sudah mampir.

Minggu, 02 Juni 2024

DILANDA FUTUR, KUDU NGAPAIN?


KETIKA MOTIVASI LELAH DAN LINGKUNGAN MENJADI PENYELAMAT



​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Halo sahabat semua, kali ini saya ingin berbagi cerita yang semoga bisa menjadi pembelajaran berharga, khususnya bagi siapa saja yang sedang berjuang menjaga konsistensi dan semangat belajar dalam memperbaiki diri. Dalam setiap proses perjalanan menuju pribadi yang lebih baik, kita kerap dihadapkan pada ujian yang menguji kesungguhan kita untuk terus bertahan.

​Jika mengingat kembali ke belakang, sekitar pertengahan tahun 2022, saya sempat berada di fase bingung untuk memulai langkah perubahan. Sampai akhirnya, saya dipertemukan dengan lingkungan pertemanan positif yang mengajak saya untuk belajar lebih tekun, konsisten, dan saling mendukung dalam kebaikan. Sejak saat itu, semangat untuk belajar dan berkarya terus menggelora. Berada di tengah lingkungan yang penuh dengan energi positif membuat saya selalu punya alasan untuk bertahan dan tetap berada di jalur yang benar.

​Namun, roda kehidupan terus berputar hingga datanglah fase futur. Futur adalah kondisi ketika motivasi diri merosot tajam, rasa lelah luar biasa melanda, dan semangat belajar maupun beraktivitas seolah hilang tanpa sisa. Saat itu saya harus kembali ke kampung halaman untuk urusan penelitian kuliah. Berada jauh dari lingkaran pertemanan positif membuat saya kesulitan menjaga konsistensi diri.

​Kondisi tersebut diperparah oleh rasa lelah fisik, beban pikiran, serta masalah kesehatan yang datang bersamaan. Tanpa adanya support system yang saling menguatkan di sekitar, hal sederhana pun terasa sangat berat. Masalah yang sebenarnya wajar terjadi dalam hidup menjadi terasa begitu membebani karena saya menghadapinya seorang diri.

​Saya sempat melewati beberapa bulan dalam ketidaktenangan. Meski ada keluarga yang sangat peduli dan mencintai, rasa jenuh dan keletihan mental dalam diri membuat saya bingung bagaimana harus bangkit. Saya kerap merasa lelah dan hampir saja menyerah dari target-target kehidupan. Keadaan makin rumit ketika saya memilih untuk menarik diri, mengisolasi diri dari teman-teman, dan memutus komunikasi karena rasa canggung serta bersalah.

​Memasuki pertengahan tahun 2024, saya kembali ke kota untuk menyelesaikan tugas akhir perkuliahan dengan perasaan yang sangat sepi. Saya merasa berjalan sendirian di tengah keramaian. Padahal, keputusan saya untuk mengisolasi diri saat dilanda masalah justru memperrumit keadaan dan tidak memberikan solusi apa pun.

​Hingga pada suatu hari, teman-teman dekat saya berhasil menemukan keberadaa tempat tinggal saya. Pertemuan itu menjadi momen yang sangat emosional. Tangis haru tak terbendung saat menyadari bahwa mereka tetap peduli, mencari, dan merangkul saya tanpa menghakimi rasa lelah yang sempat saya alami.

​Dari pengalaman ini, saya makin menyadari bahwa manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian. Fase futur atau jenuh adalah hal yang manusiawi dalam perjalanan belajar dan berjuang. Namun, memiliki lingkungan yang tulus, peduli, dan saling mengingatkan dalam kebaikan adalah rezeki yang sangat bernilai. Lingkungan positif itulah yang membantu kita untuk kembali bangkit ketika semangat dalam diri sedang redup.

​Semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang saling menguatkan, sehingga kita bisa terus konsisten belajar, berkarya, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

​Aisyah Humaira H. Said

Terima kasih sudah mampir.

Minggu, 08 Mei 2022

SELAMAT DATANG DI DESAKU

 Assalamualaikum wr wb.. terima kasih sudah mampir. SELAMAT membaca. SEMOGA anda bahagia

DESA NUCA MOLAS



    Kepulauan Indonesia terdiri dari beberapa pulau besar dan beberapa kepulauan kecil. Salah satu dari kepulauan kecil itu adalah kepulauan yang terdapat di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meliputi tiga pulau besar, yaitu pulau Flores, pulau Sumba dan pulau Timor  disingkat FLOBAMOR dan akhirnya menjadi sebutan khas untuk NTT.

     Di Nusa Tenggara Timur sendiri terdapat sekitar 550-an pulau. Salah satu diantaranya adalah Pulau Mules. Pulau dengan desa tersendirinya, yakni Desa Nuca Molas  ini terletak di Laut Sawu dan tepat di sebelah selatan Pulau Flores. Secara geografis dapat teman-teman lihat pada gambar via satelit di atas.
   Cikal bakal yang melatar belakangi berdirinya Desa Nuca Molas diawali oleh hadirnya para penjajah di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Timur. Kehadiran para penjajah yang tentunya mengakibatkan ketidaknyamanan para penduduk kala itu membuat banyak penduduk menjadi nomaden untuk mencari tempat tinggal yang aman. Pulau mules menjadi salah satu tempat berhuninnya para nomaden ini khusunya penduduk dari suku Sabu, Ende dan Manggarai. Mereka melanjutkan kehidupan dan melahirkan generasi-generasi baru. Kehidupanpun terus mengalami pertumbuhan hingga negeri yang awalnya tak berpenghuni ini manjadi negeri berkehidupan seperti saat ini. 

Kehidupan yang terus tumbuh dan berlanjut, hingga pada tahun 2005-2010, berdasarkan kebijakan pemerintah dalam penerapan UU Pemekaran Desa, Pulau Mules diputuskan menjadi desa persiapan dari hasil pemekaran Desa Satar Lenda dan akhirnya  pada tahun 2010 Pulau Mules diresmikan sebagai desa definitif hingga sekarang yang dikenal dengan Desa Nuca Molas.(sumber informasi; wawancara dengan narasumber atas nama Pak H. Said ,yang merupakan anggota BPD di desa Nuca Molas)

    Filosofi dibalik nama Nuca Molas adalah keindahan pulaunya. ‘’Nuca’’ dan ‘’Molas’’, dua kata yang berasal dari bahasa Manggarai. Nuca yang berarti ‘’nusa atau pulau” dan Molas yang berati ‘’cantik’’. Jadi Nuca Molas artinya adalah ‘’pulau yang cantik’’ . (informasi bersumber dari hasil wawancar dengan warga di kampung Konggang).

    Jika dideskripsikan secara visual, kondisi fisik  Desa Nuca Molas baik dari segi perairan(laut), pantai, daratan, hutan dan berbagai gambaran fisiknya dapat dilihat pada ilustrasi berikut:


(sumber foto:google maps)

    Bagimana dengan potensinya? alhamdulillah kamu bertanya .Lanjutkan membaca.saya yakin kamu akan terkesima.

     Basodaraku, penting diketahui bahwa Desa Nuca Molas ini terdiri  dari 3 dusun atau kampung,yakni kampung Labuantaur(Timur), Kampung Peji(Tengah) dan Kampung Konggang(Barat). Desai ini tereletak di Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

    Di balik keberadaanya, desa berpenduduk sekitar 1.400 jiwa dan memiliki luas 18.000 hektar ini meyimpan banyak potensi sekaligus tantangan yang tidak banyak diketahui orang. Berbicara tentang potensi dan tantangan tentunya tidak terlepas dari upaya pembangunan desa itu sendiri. Potensi di suatu wilayah merupakan sesuatu yang dapat menjadi modal pembangunan dan pengembangan wilayah tersebut.

   


    Ditinjau dari berbagai sumber data baik internet, wawancara kepada penduduk serta pengalaman pribadi sebagai warga asli Desa nuca molas sendiri, tidak dapat dipungkiri bahwa wilayah Desa Nuca Molas adalah suatu wilayah yang memiliki potensi wisata alam yang cukup besar. diantaranya adalah:
  
  1.  Keindahan Bawah Laut

    Keindahan bawah laut dari Desa Nuca Molas atau dikenal PulauMulestidak dapat dipungkiri lagi, memang menjadi salah satu primadona yang luar biasa di desa ini. Sebagai anak bangsa sekaligus warga Desa Nuca Molas, saya berharap agar primadona ini tetap terjaga dan terlestarikan keberadaannya.(sumber foto dan informasi; CHANNEL YOUTUBE -BKKPN KUPANG(https://www.youtube.com/watch?v=hRjhB_j3I9Y)))

2. potensi hutan

    Pesona wilayah Desa Nuca Molas dengan hutan yang didominasi oleh pohon lontar dan kelapa serta dikelilingi oleh pasir putih bersih ini jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.Terlepas dari pesona alamnya yang indah, hutan di wilayah ini menjadi sumber sekaligus potensi bagi keberlangsungan hidup masyarakat desa nuca molas. ..(sumber foto dan informasi: BKKPN KUPANG(https://www.youtube.com/watch?v=hRjhB_j3I9Y))

 3. potensi laut


    Laut yang mengelilingi Pulau Mules dikenal dengan nama laut sawu. Laut sawu ini merupakan  anugerah dengan potensi yang luar biasa di dalamnya. Jelas jika potensi ini dapat dimaanfaatkan dan dikelola degan baik dan bijak  tentu dapat meningkatan ekonomi masyarakat sekitar. wilayah ini biasanya manjadi  tempat para warga  Desa Nuca Molas yang bekerjaa sebagai nelayan  menumpahkan keringat bekerja untuk memnuhi sekaligus menunjang kebutuhan hidup.

4. Destinasi Wisata

VIVA – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur berkomitmen untuk mengembangkan Pulau Mules sebagai destinasi wisata unggulan dan menjadi kebanggaan masyarakat Manggarai.

Pulau seluas 18.029 hektare ini menyuguhkan keindahan alam berupa hamparan bukit batu dan padang rumput yang bercampur dengan pepohonan menyerupai siluet putri tidur yang cantik. Anugerah Pesona keindahan alam Pulau Mules yang lengkap dengan segala keanekaragaman hayati di dalamnya. Di sekitar pulau ini hidup beragam satwa, diantaranya penyu, lumba-lumba, ikan beragam jenis, gugusan corak dananemon yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Selain itu, dengan ukuran ombak sedang, tempat ini sangat cocok untuk kegiatan surfing, snorkeling dan diving.(sumber informasi: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/travel/1019486-pulau-mules-destinasi-yang-belum-banyak-orang-tahu)

bebrapa potensi itu tentu bukanlah yang pasti. penulis hanya membagikan apa yang menurut penulis memang pantas diakatakan potensi , tidak menutup kemunginan dari kacamata yang berbeda, basodara bisa memberikan bahkan menemukan potensi lainya dari negeri kecil ini . jika basodara tetap berpikir dan  terus mencari tahu.

nah, itulah sekilas gambaran tentang negeri kecil  Pulau Mules , Desa Nuca Molas dengan pesonanya yang luar biasa. Tertarik untuk kesini? ....
    

SELESAI...

Sampai disini dulu ya sahabat penaku. Semoga  BERMANFAAT . Terima kasih untuk yang sudah HADIR DISINI dan membagikan. Jangan lupa sempatkan berkomentar sob. bicarakan isi hati dan pikiran baikmu di kolom komentar demi kebaikan tulisan saya kedepannya dan UNTUK KITA BERSAMA, BERMANFAAT MENGGAPAI KEBAIKAN.

  Wassalamualaiqum wr wb... salam jumpa di Negeriku.






Sabtu, 16 April 2022

SEROJA MELANDA, GENCANAYO

Ini yang saya rasakan kala itu terjadi...



RINDU DAN RISAU

Izinkan Aisyah menceritakan bagiaman rasannya disambut oleh kesedihan sekaligus kesusahan di bulan ini.

Sendiri berteman bayangan di dekap sunyinya ruangan kost sebenarnya hal biasa. Hidup sendiri di perantauan bukan lagi masalah. Karena pandemi kami terlatih belajar mandiri dan menegarkan diri menatap virtual perkuliahan walau kian mulai menjenuhkan. Menjalani konsekuensi berani bermimpi hngga kini melahap materi tanpa temu  berikut dihidangkan sajian tugas kian menjadi konsumsi sehari-hari

April 2021, bulan yang saya nantikan untuk kembali pulang ke rumah hadir memberikan banyak kejutan. Kejutan yang mengajarkanku kuat ketika ekpektasi dieliminasi keadaan. Situasi ini mengalahkan resahnya hati di kala pandemi. Ia menghadirkan kerisauan yang dapat mematahkan mimpi dan meracuni rindu yang hampir terobati.

Rindunya hati akan idul fitri dan besarnya mimpi ingin berkumpul bersama keluarga dipatahkan oleh situasi di hari ini, Situasi yang mengharuskanku berdiam diri dengan penuh hati-hati dan harap walau kerisauan mulai mengeliminasi ekspektasi akan rindu yang harusnya terobati di bulan ini. hanya dapat berdoa dan berkaca di balik jendela kesedihan itu . Menatap NTT ku yang sedang tidak baik-baik saja.  PERISTIWA BADAI SEROJA,  untuk kita kembali merefleksi amal perbuatan. Bagaimanapun harus tetap Sabar, ikhlas dan bersyukur sekalipun negeri tercinta NTT  sedang tidak baik-baik saja. Jangan lupa ikhtiar agar selamat

selesai.....

Sampai disini dulu ya sahabat penaku.Semoga  BERMANFAAT dan kamu menikmatinya. Terima kasih untuk yang sudah like dan membagikan. Jangan lupa sempatkan berkomentar ya sobatku. bicarakan isi hati dan pikiran baikmu di kolom komentar demi kebaikan tulisan saya kedepannya dan UNTUK KITA BERSAMA, BERMANFAAT MENGGAPAI KEBAIKAN.

 . wassalamualaiqum wr wb...

SEBELUM TERLAMBAT

selamat datang di blog saya. terima kasih sudah mampir. nikmati waktumu dengan membaca

Bangun dan Kembali  untuk-Mu


 Terik mentari pagi menerobos jendela kamarku, menyadarkanku bahwa pagiku telah dimulai dengan kelalaianku pada yang Maha Kuasa. Astaghfirullahaladzim…ampuni aku ya Allah , aku dilelapkan nafsu yang membiarkan mata dan tubuhku termanjakan kantuk yang tak seharusnya kubiarkan hingga melewatkan waktu shubuh dan fajar ini. yup, bahkan suara alarm yang telah kuatur sedemikian mungkin diperkirakan mampu membangunkan nanti tak dapat menyadarkanku. Jelas saja kembali ke khendak Allah .Rasaanya Allah tidak merahmati tidurku ini hingga shubuhpun iblis menguasaiku.Astagafirullahaadzim...bangun kesiangan ini adalah salah satu dari kesekian khilaf yang terjadi. BERJANJI UNTUK TIDAK MENGECEWAKAN TAPI KERAP MELANGGAR,  banyak dosa dan harapan menjadi terus baik yang sering gagal untuk kuistiqomahkan hingga sekarang. Ikhitiarnya kerap kali diwarnai kekhilafan. Untungnya Allah masih memberiku kesempatan, dan hari ini aku masih dipercayakan untuk menajalani hidup, menikmati kembali yang ia karuniakan untuku. Sadarlah, malu pada ciptaan lainya yang ketakwaannya pada Allah jauh lebih baik darimu.  Masih berharap rahmatMu ya Allah . Semoga selanjutnya tak lagi demikian. Kerap khilaf bukan berarti gagal. istiqomahku untuk menjadi lebih baik memang tidak mudah, tapi satu hal yang membuatku tak berhenti tuk putus asa dan terus optimis memperbaiki  diri bahwa Allah masih ada . Rahmat Allah satu-satunya alarm  yang selalu menyadarkanku, memberikanku kesempatan untuk menjadi baik hanya saja aku yang belum sungguh-sungguh dalam proses mengubah diri ini. Allah begitu baik, begotu mencintaiku yang kerap khilaf ini . Tanpa kusemogakan pun Allh memang selalu mencintai hambanya. Mampukan aku menajdi pantas mendapat rahmat dan ridhomu ya Rob. Jaga dan istiqomahkan hati ini dalam kebaikan ya Allah.

Untuk kali ini benar-benar aku janjikan dan tegaskan pada hati yang masih lemah akan berbuat dosa ini untuk benar-benar tak akan mengecewakan Allah lagi. Sebenarnya yang perlu kau sadari wahai hatiku , Allah tak pernak sama sekali akan rugi ketika kau bermaksiat , tak sama sekali. Allah hanya akan sedih melihat hambanya yang masih saja membutakan diri dari kebenaran padahal pikiran dan hati mengetahui kebenaran akan petunjuk Allah yang tak seharusnya dilanggarkan. Coba engkau tunjukkan adakah perintah Allah yang merugikan dan dosa yang jika dikerjakan itu menguntungkan? Sungguh tidak ada. Segala yang ALLAH perintahkan untuk kau kerjakan jelas untuk kebaikan hidupmu sendiri. Tak ada yang Allah tetapkan tanpa adanya kebaikan dibalik apa yang ditetapkannya itu.Dari jutaan roh yang dimintai kesanggupan, engkau menjadi salah satu yang dipercayakan untuk hadir ke semesta ini? jelas saja karena kau tahu dan Allah percaya bahwa kau mampu mejadi hambanya yang baik, yang bertakwa, yang memnuhi apa yang menjadi harapan pencipta untuk ciptaaNYA yang baik. Wahai Ciptaan yang baiik, yang paham bahwa segala yang dicintai Tuhanya adalah yang haruus ia cintai dan ikhlas dalam menjalankannya., BANGUNKAN KETAKWAAN ITU DALAM DIRIMU, bangun dan bertakwalah. BANGGAKAN PEMILIKMU. Sebab tak ada orang bertakwa yang hidupnya sia-sia. BISMILLAHIROHMANIRROHIM, AKU BANGUN DAN KEMBALI PADAMU WAHAI ROB KU. Tidak akan takut pada apapun dan siapapun kecuali Engkau semata. Bersamamu aku berani Ya Allah. Lahaula wala quawata illa billah 


selesai.....

Sampai disini dulu ya sahabat penaku.Semoga  BERMANFAAT dan kamu menikmatinya. Terima kasih untuk yang sudah like dan membagikan. Jangan lupa sempatkan berkomentar ya sobatku. bicarakan isi hati dan pikiran baikmu di kolom komentar demi kebaikan tulisan saya kedepannya dan UNTUK KITA BERSAMA, BERMANFAAT MENGGAPAI KEBAIKAN.

 . wassalamualaiqum wr wb...


CERPEN: SETITIK RASA RINDU DI HARI SELASA

SETITIK RASA RINDU DI HARI SELASA 


No photo




​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Di balik bantal, sayup terdengar azan subuh berkumandang memecahkan kesunyian pagi. Seketika aku terbangun dan duduk sejenak, membiarkan kesadaranku terkumpul perlahan.

​"Astagfirullah, mata ini rasanya berat sekali," gumamku sambil berdiri, mengusap mata, dan meregangkan badan yang masih terasa kaku.

​"Ai, bangun nak," panggil Ayah dari luar kamar.

​Seperti biasanya, beliau selalu menjadi sosok setia yang membangunkan aku untuk melaksanakan ibadah subuh.

​"Iya Yah, sudah bangun kok," sahutku sambil melangkah menyusul Ayah menuju tempat wudu.

​Dinginnya air pagi seakan menjilat pori-pori kulit. Segera setelah berwudu, aku dan Ayah berjalan menuju mushola kecil di dalam rumah. Kami menunaikan ibadah sholat subuh berjemaah, berdoa, dan berzikir pagi sebagai amalan sunnah rutin. Selesai beribadah, kami siap memulai hari baru dengan harapan bahwa petualangan di episode hari ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya, sebab itulah doa utama kami setiap mengawali hari.

​Aku adalah seorang gadis SMA berusia 16 tahun yang selalu berusaha tampil ceria. Hari ini aku memanfaatkan waktu libur sekolah untuk bekerja dua kali lipat lebih rajin demi membantu Ayah dan Ibu di rumah. Seperti biasa, di Selasa pagi ini hanya ada aku dan Ayah di rumah. Ibuku seorang pedagang ikan kering. Beliau sedang pergi berdagang ke pasar sejak kemarin pagi dan diperkirakan baru akan kembali pada Selasa petang.

​Setelah membantu Ayah menuliskan data-data penerima sembako di mana Ayah dipercayakan sebagai agen penyalur di kampung kami, aku melanjutkan tugas rumah tangga lainnya. Aku membersihkan rumah dan halaman, memasak, serta menyiapkan sarapan untuk Ayah. Setelah semua hidangan siap di meja, aku menunggu Ayah memanggilku untuk sarapan bersama sebelum akhirnya aku membersihkan diri.

​"Kini rumah sudah bersih dan rapi, tapi tugasmu belum selesai sampai di sini. Semangat ya diriku, jangan mengeluh!" ucapku berbisik pada diri sendiri sambil mengatupkan kedua tangan ke pipi di depan cermin.

​Menasehati dan memotivasi diri di depan cermin saat sebelum tidur, saat duduk berdiam diri, atau saat sedang makan adalah kebiasaan unik yang kerap aku lakukan setiap hari. Sebagai pribadi yang sadar akan kekurangan diri dan sering khilaf, momen seperti ini menjadi penguat bagiku. Hari ini Allah memberikanku kesempatan melewati suasana hening. Ketidakberadaan Ibu di sisi serta kakak-kakak yang belum kembali ke rumah menjadi alasan sepi ini hadir. Namun aku mencoba menenangkan hati, "Tapi sudahlah, bukankah aku sudah terbiasa seperti ini? Sepi sendiri walau tidak sunyi."

​Sepi sendiri walau tidak sunyi karena masih ada Ayah di rumah. Aku sangat bersyukur daripada harus merasakan rumah yang benar-benar kosong. Tentu bukan suasana sepi ini yang kuharapkan, hanya saja rasa rindu tiba-tiba menyergap dada. Kuatatap foto keluarga lengkap yang terpajang di dinding itu. Setitik air mata haru menetes di sudut mataku.

​"Sebening rindu di hari ini, berharap keluarga bisa kembali lengkap seperti ini," gumamku sambil mengusap air mata saat menyentuh bingkai foto tersebut.

​"Kenapa sih Aisyah? Sudah, berhentilah menangis, ini hal yang wajar. Mereka akan kembali dan tidak ada yang meninggalkanmu. Cukup jadi anak yang baik dan doakan agar mereka senantiasa dijaga oleh Allah," batinku menenangkan diri.

​Kenapa aku harus menangis? Apakah ini tandanya aku sudah makin dewasa atau hanya sekadar bertambah umur? Aku belum tua, tetapi keadaan menuntutku untuk berpikir lebih dewasa. Selasa pagi ini rasanya cukup berbeda dari biasanya. Rindu itu memang terkadang hadir tanpa diundang.

​"Mungkin karena mereka sangat berharga bagiku," gumamku dalam hati.

​"Ai, mari makan," terdengar suara Ayah di balik pintu memanggilku.

​"Astaga, sudah jam tujuh! Sepertinya Ayah telah memanggilku sejak tadi," pikirku terkejut.

​Segera aku bergegas mencuci muka. Ayah tentu akan tertawa jika tahu putri bungsunya yang merasa sudah dewasa ini sempat menangis sesenggukan seperti bayi di kamar. Aku tidak boleh terlihat sedih di depannya.

​"Bismillahirrahmanirrahim, waktunya mulut beroperasi. Selamat sarapan Ayah!" seruku mencoba mencairkan suasana.

​Ayahku, lelaki tua yang sangat baik itu, hanya tersenyum hangat menghadapi putri bungsunya yang masih sering dianggap sebagai gadis kecilnya.

​Cerita selesai.

​Sampai di sini dulu ya sahabat penaku. Semoga kamu menikmati cerpen sederhana ini. Terima kasih untuk yang sudah membaca dan membagikan tulisan ini. Jangan lupa untuk membagikan pandangan atau tanggapan baikmu di kolom komentar demi perbaikan tulisan saya ke depannya. Semoga bermanfaat untuk kita bersama.

​Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Aisyah Humaira H. Said

Terima kasih sudah mampir.