Sabtu, 16 April 2022

CERPEN: SETITIK RASA RINDU DI HARI SELASA

SETITIK RASA RINDU DI HARI SELASA 


No photo




​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Di balik bantal, sayup terdengar azan subuh berkumandang memecahkan kesunyian pagi. Seketika aku terbangun dan duduk sejenak, membiarkan kesadaranku terkumpul perlahan.

​"Astagfirullah, mata ini rasanya berat sekali," gumamku sambil berdiri, mengusap mata, dan meregangkan badan yang masih terasa kaku.

​"Ai, bangun nak," panggil Ayah dari luar kamar.

​Seperti biasanya, beliau selalu menjadi sosok setia yang membangunkan aku untuk melaksanakan ibadah subuh.

​"Iya Yah, sudah bangun kok," sahutku sambil melangkah menyusul Ayah menuju tempat wudu.

​Dinginnya air pagi seakan menjilat pori-pori kulit. Segera setelah berwudu, aku dan Ayah berjalan menuju mushola kecil di dalam rumah. Kami menunaikan ibadah sholat subuh berjemaah, berdoa, dan berzikir pagi sebagai amalan sunnah rutin. Selesai beribadah, kami siap memulai hari baru dengan harapan bahwa petualangan di episode hari ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya, sebab itulah doa utama kami setiap mengawali hari.

​Aku adalah seorang gadis SMA berusia 16 tahun yang selalu berusaha tampil ceria. Hari ini aku memanfaatkan waktu libur sekolah untuk bekerja dua kali lipat lebih rajin demi membantu Ayah dan Ibu di rumah. Seperti biasa, di Selasa pagi ini hanya ada aku dan Ayah di rumah. Ibuku seorang pedagang ikan kering. Beliau sedang pergi berdagang ke pasar sejak kemarin pagi dan diperkirakan baru akan kembali pada Selasa petang.

​Setelah membantu Ayah menuliskan data-data penerima sembako di mana Ayah dipercayakan sebagai agen penyalur di kampung kami, aku melanjutkan tugas rumah tangga lainnya. Aku membersihkan rumah dan halaman, memasak, serta menyiapkan sarapan untuk Ayah. Setelah semua hidangan siap di meja, aku menunggu Ayah memanggilku untuk sarapan bersama sebelum akhirnya aku membersihkan diri.

​"Kini rumah sudah bersih dan rapi, tapi tugasmu belum selesai sampai di sini. Semangat ya diriku, jangan mengeluh!" ucapku berbisik pada diri sendiri sambil mengatupkan kedua tangan ke pipi di depan cermin.

​Menasehati dan memotivasi diri di depan cermin saat sebelum tidur, saat duduk berdiam diri, atau saat sedang makan adalah kebiasaan unik yang kerap aku lakukan setiap hari. Sebagai pribadi yang sadar akan kekurangan diri dan sering khilaf, momen seperti ini menjadi penguat bagiku. Hari ini Allah memberikanku kesempatan melewati suasana hening. Ketidakberadaan Ibu di sisi serta kakak-kakak yang belum kembali ke rumah menjadi alasan sepi ini hadir. Namun aku mencoba menenangkan hati, "Tapi sudahlah, bukankah aku sudah terbiasa seperti ini? Sepi sendiri walau tidak sunyi."

​Sepi sendiri walau tidak sunyi karena masih ada Ayah di rumah. Aku sangat bersyukur daripada harus merasakan rumah yang benar-benar kosong. Tentu bukan suasana sepi ini yang kuharapkan, hanya saja rasa rindu tiba-tiba menyergap dada. Kuatatap foto keluarga lengkap yang terpajang di dinding itu. Setitik air mata haru menetes di sudut mataku.

​"Sebening rindu di hari ini, berharap keluarga bisa kembali lengkap seperti ini," gumamku sambil mengusap air mata saat menyentuh bingkai foto tersebut.

​"Kenapa sih Aisyah? Sudah, berhentilah menangis, ini hal yang wajar. Mereka akan kembali dan tidak ada yang meninggalkanmu. Cukup jadi anak yang baik dan doakan agar mereka senantiasa dijaga oleh Allah," batinku menenangkan diri.

​Kenapa aku harus menangis? Apakah ini tandanya aku sudah makin dewasa atau hanya sekadar bertambah umur? Aku belum tua, tetapi keadaan menuntutku untuk berpikir lebih dewasa. Selasa pagi ini rasanya cukup berbeda dari biasanya. Rindu itu memang terkadang hadir tanpa diundang.

​"Mungkin karena mereka sangat berharga bagiku," gumamku dalam hati.

​"Ai, mari makan," terdengar suara Ayah di balik pintu memanggilku.

​"Astaga, sudah jam tujuh! Sepertinya Ayah telah memanggilku sejak tadi," pikirku terkejut.

​Segera aku bergegas mencuci muka. Ayah tentu akan tertawa jika tahu putri bungsunya yang merasa sudah dewasa ini sempat menangis sesenggukan seperti bayi di kamar. Aku tidak boleh terlihat sedih di depannya.

​"Bismillahirrahmanirrahim, waktunya mulut beroperasi. Selamat sarapan Ayah!" seruku mencoba mencairkan suasana.

​Ayahku, lelaki tua yang sangat baik itu, hanya tersenyum hangat menghadapi putri bungsunya yang masih sering dianggap sebagai gadis kecilnya.

​Cerita selesai.

​Sampai di sini dulu ya sahabat penaku. Semoga kamu menikmati cerpen sederhana ini. Terima kasih untuk yang sudah membaca dan membagikan tulisan ini. Jangan lupa untuk membagikan pandangan atau tanggapan baikmu di kolom komentar demi perbaikan tulisan saya ke depannya. Semoga bermanfaat untuk kita bersama.

​Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Aisyah Humaira H. Said

Terima kasih sudah mampir.

2 komentar: