Selasa, 08 September 2026

Sering Merasa Tidak Cukup? Tulisan Ini Untukmu

 Mengapa Kita Sering Merasa Tidak Cukup?


Kawanku... ada sebuah perasaan yang dulu kerap menggangguku dan mungkin juga banyak dialami oleh kawan di luar sana. Perasaan tersebut adalah ketika apa yang diinginkan berhasil dimiliki, tapi tetap saja terasa kurang? Kita sudah mencapai sesuatu yang dulu sangat diinginkan, tetapi setelah mendapatkannya, muncul keinginan baru yang membuat kita kembali merasa belum cukup. Kita ingin pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, kehidupan yang lebih nyaman, atau pencapaian yang lebih tinggi. Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali terbiasa dengan hal-hal baik yang telah diperolehnya. Sesuatu yang awalnya membuat kita sangat bahagia, lama-kelamaan menjadi biasa saja. Karena itu, manusia sering terus mengejar kebahagiaan berikutnya tanpa benar-benar merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki. Setelah mendapatkan konsekuensi entah pujian atau apapun yang menyenangkan hati, manusia cenderung mengulangi. Ini dibahas dalam teori behavioristik. Tapi ketika yang menyenangkan itu kian hari terasa biasa saja, manusia akan mencari pada hal lain yang membawa konsekuensi kesenangan serupa. 

Masalahnya bukan pada keinginan untuk berkembang. Manusia memang membutuhkan tujuan dan harapan dalam hidup. Namun, ketika seluruh kebahagiaan selalu kita letakkan pada sesuatu yang belum dimiliki, kita akan terus hidup dengan perasaan kurang. Kita berkata, “Saya akan bahagia kalau sudah berhasil,” kemudian setelah berhasil kita kembali berkata, “Saya akan bahagia kalau mendapatkan yang lebih besar.” Akhirnya, kebahagiaan selalu berada di masa depan, sementara kita lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani hari ini.

Al-Qur'an mengajarkan manusia tentang pentingnya melihat dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah berfirman bahwa jika manusia bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Syukur bukan berarti berhenti bermimpi atau menyerah pada keadaan. Syukur adalah kemampuan untuk menyadari bahwa di tengah hal-hal yang belum kita miliki, masih ada banyak hal yang sudah Allah berikan. Kita tetap boleh memiliki ambisi, tetapi jangan sampai ambisi membuat kita buta terhadap nikmat yang sudah ada.

Saya semakin memahami bahwa rasa cukup bukan berarti memiliki semuanya. Rasa cukup adalah kemampuan untuk tetap bersyukur sambil terus berusaha. Kita boleh mengejar kehidupan yang lebih baik tanpa membenci kehidupan yang sedang kita jalani. Kita boleh memiliki mimpi besar tanpa menganggap diri gagal hanya karena belum sampai ke sana. Sebab mungkin, kawan, masalah kita bukan karena hidup terlalu sedikit memberi, tetapi karena kita terlalu sering menghitung apa yang belum dimiliki dan lupa menghargai apa yang sudah ada. Jadi, sebelum kembali mengejar sesuatu yang jauh di depan, mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: "berapa banyak hal yang dulu saya inginkan, tetapi sekarang sudah saya miliki?"

Referensi singkat: Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic Relativism and Planning the Good Society. Dalam M. H. Appley (Ed.), Adaptation-Level Theory. Academic Press. Lyubomirsky, S. (2011). The How of Happiness. Penguin Press. Al-Qur'an, QS. Ibrahim: 7.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar