Minggu, 02 Juni 2024

DILANDA FUTUR, KUDU NGAPAIN?


KETIKA MOTIVASI LELAH DAN LINGKUNGAN MENJADI PENYELAMAT



​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

​Halo sahabat semua, kali ini saya ingin berbagi cerita yang semoga bisa menjadi pembelajaran berharga, khususnya bagi siapa saja yang sedang berjuang menjaga konsistensi dan semangat belajar dalam memperbaiki diri. Dalam setiap proses perjalanan menuju pribadi yang lebih baik, kita kerap dihadapkan pada ujian yang menguji kesungguhan kita untuk terus bertahan.

​Jika mengingat kembali ke belakang, sekitar pertengahan tahun 2022, saya sempat berada di fase bingung untuk memulai langkah perubahan. Sampai akhirnya, saya dipertemukan dengan lingkungan pertemanan positif yang mengajak saya untuk belajar lebih tekun, konsisten, dan saling mendukung dalam kebaikan. Sejak saat itu, semangat untuk belajar dan berkarya terus menggelora. Berada di tengah lingkungan yang penuh dengan energi positif membuat saya selalu punya alasan untuk bertahan dan tetap berada di jalur yang benar.

​Namun, roda kehidupan terus berputar hingga datanglah fase futur. Futur adalah kondisi ketika motivasi diri merosot tajam, rasa lelah luar biasa melanda, dan semangat belajar maupun beraktivitas seolah hilang tanpa sisa. Saat itu saya harus kembali ke kampung halaman untuk urusan penelitian kuliah. Berada jauh dari lingkaran pertemanan positif membuat saya kesulitan menjaga konsistensi diri.

​Kondisi tersebut diperparah oleh rasa lelah fisik, beban pikiran, serta masalah kesehatan yang datang bersamaan. Tanpa adanya support system yang saling menguatkan di sekitar, hal sederhana pun terasa sangat berat. Masalah yang sebenarnya wajar terjadi dalam hidup menjadi terasa begitu membebani karena saya menghadapinya seorang diri.

​Saya sempat melewati beberapa bulan dalam ketidaktenangan. Meski ada keluarga yang sangat peduli dan mencintai, rasa jenuh dan keletihan mental dalam diri membuat saya bingung bagaimana harus bangkit. Saya kerap merasa lelah dan hampir saja menyerah dari target-target kehidupan. Keadaan makin rumit ketika saya memilih untuk menarik diri, mengisolasi diri dari teman-teman, dan memutus komunikasi karena rasa canggung serta bersalah.

​Memasuki pertengahan tahun 2024, saya kembali ke kota untuk menyelesaikan tugas akhir perkuliahan dengan perasaan yang sangat sepi. Saya merasa berjalan sendirian di tengah keramaian. Padahal, keputusan saya untuk mengisolasi diri saat dilanda masalah justru memperrumit keadaan dan tidak memberikan solusi apa pun.

​Hingga pada suatu hari, teman-teman dekat saya berhasil menemukan keberadaa tempat tinggal saya. Pertemuan itu menjadi momen yang sangat emosional. Tangis haru tak terbendung saat menyadari bahwa mereka tetap peduli, mencari, dan merangkul saya tanpa menghakimi rasa lelah yang sempat saya alami.

​Dari pengalaman ini, saya makin menyadari bahwa manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian. Fase futur atau jenuh adalah hal yang manusiawi dalam perjalanan belajar dan berjuang. Namun, memiliki lingkungan yang tulus, peduli, dan saling mengingatkan dalam kebaikan adalah rezeki yang sangat bernilai. Lingkungan positif itulah yang membantu kita untuk kembali bangkit ketika semangat dalam diri sedang redup.

​Semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang saling menguatkan, sehingga kita bisa terus konsisten belajar, berkarya, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

​Aisyah Humaira H. Said

Terima kasih sudah mampir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar