REFLEKSI UNTUK AISYAH DARI 2024
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Melalui catatan kali ini, saya berharap kita bisa saling mengenali, menginspirasi, dan berbagi motivasi. Selamat membaca, semoga waktu yang Anda luangkan di sini membawa kebaikan.
Aisyah Humaira H. Said adalah nama lengkap saya. Namun, orang-orang di sekitar kerap menyapa saya dengan panggilan Aisyah, Ndondong, Ai, atau Ais. Dari sekian banyak sapan tersebut, saya pribadi lebih nyaman jika dipanggil Aisyah atau Ai karena terasa lebih pas dan enak didengar. Meski begitu, panggilan Ndondong yang merupakan sapaan akrab dari saudara-saudara saya tetap memiliki tempat tersendiri di hati setelah saya memahami makna hangat di balik panggilan itu. Bagi saya, apa pun panggilannya, sosok yang berada di balik cerita ini tetaplah sama, yaitu diri saya sendiri.
Terlahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, terpikir di benak saya sebuah harapan besar untuk bisa memberikan pencapaian terbaik dalam hidup. Saya ingin menjadi muara yang manis bagi rangkaian perjuangan panjang dua insan hebat pilihan Allah, yaitu ayah dan ibu. Episode perjuangan serta curahan keringat mereka demi memberikan kehidupan terbaik bagi anak-anaknya tidak pernah benar-benar terputus. Dari ketulusan merekalah, perjalanan kisah hidup saya bermula.
Saya lahir di Kampung Konggang, Desa Nuca Molas, pada 02 Januari 2003. Tempat ini mungkin lebih familier jika disebut Pulau Mules, sebuah pulau kecil yang terletak di Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Sebuah kecukupan yang terasa lengkap karena ayah dan ibu selalu menanamkan rasa syukur dalam kondisi apa pun.
Pendidikan dasar saya dimulai di SDN Pulau Mules, satu-satunya sekolah dasar di kampung kami, ketika usia saya baru menginjak lima tahun. Sebagai anak pesisir, masa kecil saya dipenuhi kenangan bermain di tepi pantai, mengejar ombak, memainkan permainan khas makakaeng, serta permainan tradisional desa lainnya. Namun di samping bermain, saya juga tumbuh menjadi anak yang gemar membaca buku cerita. Meski sarana belajar saat itu sangat terbatas, saya selalu berusaha memaksimalkan apa yang ada. Ayah adalah guru pertama yang selalu setia mengajari saya di rumah. Atas izin Allah, saya selalu dipercaya meraih peringkat pertama sepanjang sekolah dasar.
Tahun 2014, setelah lulus SD, sempat terbersit keinginan untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di luar daerah, tepatnya di Kecamatan Reok. Sebagai remaja desa, tentu ada rasa antusias untuk mendapatkan pengalaman dan lingkungan baru. Namun, rasa rindu dan kasih sayang ibu yang berat melepas anak bungsunya merantau mengalahkan niat tersebut. Saya pun mengikhlaskan harapan itu demi menenangkan hati ibu.
Sekilas tentang dua malaikat tak bersayap dalam hidup saya. Ibu adalah sosok perempuan yang luar biasa tangguh. Sebagai seorang pedagang ikan kering, beliau bekerja tanpa kenal lelah, berpindah dari satu pasar ke pasar lain setiap pekannya. Sejak saya kelas satu SD, saya sering kali merajuk ingin ikut berdagang, walau keberadaan saya yang masih kecil tentu cukup merepotkan. Namun, ibu dengan penuh kasih melarang saya ikut bukan karena enggan, melainkan agar saya bisa fokus belajar dan tidak perlu melihatnya kelelahan. Beliau menekuni usaha ini sejak kakak sulung saya masih kelas 3 SD hingga kini usianya menginjak 43 tahun. Ibu menikmatinya dengan tulus. Sementara Ayah adalah sosok yang tegas dan tegar. Beliau adalah nakhoda terbaik yang lihai mengemudikan bahtera keluarga kami mengarungi samudera kehidupan, bahkan di saat paling sulit sekalipun. Walau hanya lulusan SMK dan lahir dari keluarga sederhana, berbekal ketekunan, ilmu, dan doa, Allah memberkahi beberapa usaha bisnis yang ia rintis hingga berhasil. Bagi saya, mereka berdua adalah kombinasi yang sempurna.
Keputusan untuk tetap berada di kampung membuat saya melanjutkan pendidikan di SMPN Nuca Molas pada pertengahan 2014. Masa SMP ini menjadi momen penting karena di sinilah saya mulai jatuh cinta pada dunia menulis. Saya sering menghabiskan waktu membuat draf cerita pendek di rumah, lalu menempelkan karya terbaik di mading sekolah. Dari segi akademik, walau fasilitas sekolah masih terbatas dan saya sempat mengalami keterbatasan akses teknologi, saya berhasil melewati masa tiga tahun itu dengan sangat baik. Peringkat terbaik senantiasa bertahan, walau pernah sekali turun juara ke rangking 2. Hadiah sederhana berupa empat buah buku tulis dan pulpen saat apresiasi tetap saya syukuri, sebab saya belajar untuk menyerap ilmu kehidupan, bukan sekadar memburu angka di atas kertas.
Tahun 2017, di usia 14 tahun, saya resmi lulus SMP. Langkah perjuangan berlanjut ke jenjang SMA. Saya dan orang tua memiliki harapan yang sama, yaitu melanjutkan sekolah di MAN Langke Rembong yang kini dikenal sebagai MAN 2 Manggarai di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Bersama sepupu sekaligus sahabat terdekat saya, Munira yang akrab saya panggil Lalang, kami diantar oleh keluarga menuju kota untuk mulai menimba ilmu di tanah perantauan. Kami memilih tinggal di sebuah indekos milik Kepala Madrasah. Hari-hari di SMA diisi dengan adaptasi yang luar biasa. Masuk di program studi MIPA, saya merasakan persaingan belajar yang jauh lebih ketat dibandingkan saat di kampung. Pada awal semester, saya berada di peringkat empat kelas. Kecewa tentu ada, bukan karena hasilnya, melainkan karena khawatir membuat orang tua berkecil hati. Namun, tanggapan ayah dan ibu justru sangat menenangkan. Mereka meminta saya untuk tetap bersyukur dan fokus pada proses. Sejak saat itu saya meyakini bahwa hasil hanyalah dampak, tetapi kejujuran dan ketekunan dalam proses belajarlah yang akan dibalas Allah dengan kebaikan.
Perlahan namun pasti, proses itu membuahkan hasil hingga prestasi saya meningkat ke peringkat tiga umum di sekolah. Meski demikian, ada satu penyesalan yang menjadi pelajaran berharga. Saya merasa belum maksimal memanfaatkan peluang kompetisi seperti KSM, OSN, maupun O2SN yang pernah diikuti. Pengalaman itu menempa saya untuk berjanji pada diri sendiri agar tidak lagi menyia-nyiakan setiap kesempatan baik yang hadir di masa depan. Masuk pertengahan masa SMA, fokus kami mulai terbagi dengan persiapan menuju perguruan tinggi negeri. Saya memperketat ritme belajar demi mengamankan grafik nilai rapor. Alhamdulillah, perkembangan nilai saya terus menunjukkan tren positif sejak awal kelas 11. Ketika proses pemeringkatan sekolah untuk jalur undangan SNMPTN dimulai di awal semester dua kelas 12, rasa cemas kerap menghampiri. Berbagai isu seputar syarat kelulusan sempat membuat saya ragu, namun doa dari ayah dan ibu menjadi penguat utama.
Alhamdulillah, nama saya bersama beberapa rekan lainnya resmi dinyatakan lolos pemeringkatan sekolah dan berhak melangkah ke tahap pendaftaran SNMPTN. Kabar bahagia itu langsung saya sampaikan kepada ayah dan ibu, dan senyum bangga yang terukir di wajah mereka menjadi bahan bakar utama saya untuk terus melangkah di babak berikutnya. Tahapan pendaftaran meminta kami memasukkan data administrasi berkas hingga pilihan jurusan sesuai aturan yang berlaku. Pilihan jurusan dibatasi maksimal dua. Setelah melalui diskusi mendalam bersama orang tua, guru, dan teman, pilihan pertama saya tetapkan pada Jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Nusa Cendana, sedangkan pilihan kedua adalah Jurusan Matematika di Universitas Hasanuddin. Ada cerita menarik di balik keputusan tersebut. Sejak SD hingga awal kelas 11, menjadi dokter adalah cita-cita utama saya. Namun impian itu perlahan bergeser ketika saya mulai jatuh cinta pada dunia pendidikan dan tergerak untuk menjadi seorang pendidik. Mengenai pilihan Matematika, jujur saya tidak merasa hebat dalam ilmu ini, tetapi saya sangat suka mempelajarinya. Bermodalkan rasa suka, tekun belajar, dan fokus pada proses, nilai matematika saya merangkak naik hingga menjadi salah satu yang terbaik di kelas. Dari sini saya paham bahwa kunci keberhasilan bukanlah seberapa jenius kita, melainkan seberapa konsisten kita mau belajar.
Mengenai kampus tujuan, Universitas Nusa Cendana sebagai pilihan pertama merupakan kampus kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang juga disarankan oleh guru operator sekolah. Alasan paling mendasar di atas segalanya adalah karena orang tua merestui pilihan tersebut, sebab ridho orang tua adalah bentuk ridho Allah. Sementara Universitas Hasanuddin menjadi pilihan kedua karena reputasinya yang luar biasa di Makassar, yaitu kota tempat ketiga kakak saya pernah menimba ilmu kuliah, sekaligus adanya keinginan saya untuk mencoba pengalaman baru menuntut ilmu di luar daerah. Setelah seluruh administrasi pendaftaran selesai, fokus kami beralih pada Ujian Madrasah, Ujian Akhir Madrasah, dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. Saat itu Ujian Nasional resmi ditiadakan oleh pemerintah. Alhamdulillah, saya mampu menyelesaikan seluruh ujian dengan baik. Sambil menanti pengumuman, sebagai seorang introvert yang tidak begitu menyukai keramaian, saya memilih bertahan di kos untuk fokus belajar persiapan ujian masuk perguruan tinggi jalur tertulis.
Beberapa minggu kemudian saya pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Pada tanggal 04 Mei 2020, pengumuman sekolah menyatakan seluruh siswa lulus seratus persen. Penantian berikutnya tertuju pada pengumuman SNMPTN pada tanggal 08 April 2020 pukul 13.00 WITA. Rasa tegang menyelimuti kami saat portal pengumuman dibuka di tengah koneksi internet yang lambat. Rasa haru dan syukur luar biasa buncah saat layar menampilkan warna hijau dengan tulisan selamat diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Nusa Cendana. Senyum bangga di wajah ayah dan ibu menjadi hadiah terindah dari perjuangan tersebut. Walau di hari yang sama saya tidak lolos pada jalur SPAN-PTKIN, saya tetap bersyukur karena meyakini bahwa rezeki yang ditetapkan Allah tidak akan pernah melekat pada orang yang salah. Setelah menyelesaikan seluruh proses ulang administrasi, saya resmi menjadi mahasiswa Universitas Nusa Cendana. Perjuangan berlanjut hingga kini di semester akhir bangku kuliah. Selain menyelesaikan tanggung jawab akademik untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan, saya menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah di komunitas islami, membuat konten edukatif di media sosial, serta menulis di blog pribadi untuk membagikan kebaikan.
Teruntuk Ayah dan Ibu, usaplah keringatmu dan beristirahatlah dari lelah yang panjang. Biarkan doa-doamu yang terus mengalir membantu melangkahkannya, dan biarkan anakmu ini yang berjuang untuk mengukir senyum di wajahmu. Semoga Allah meredai setiap langkah kita.
Semoga catatan kecil ini bisa mengobati rindu sahabat semua akan tulisan-tulisan saya. Saya sangat terbuka menerima masukan dan saran di kolom komentar untuk perbaikan karya-karya berikutnya. Sampai jumpa di catatan selanjutnya.
Kepada diriku, terima kasih sudah bertahan dan berjuang sejauh ini.
Wassalam.
Terima kasih sudah mampir.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar